Kamis, 17 September 2015

Cara Bijak Mengatasi Anak yang suka Memukul



Bunda, tak sedikit orangtua yang mengeluh karena anaknya suka memukul kalau marah atau keinginannya tak dituruti. Hal ini memang sebaiknya jangan terus dibiarkan agar tidak berkelanjutan hingga dia dewasa.
Bunda perlu mendidik sikap buah hati yang seperti itu hingga dia bisa mengontrol diri. Dikutip dari Parenting USA, silakan dibaca saran dari dr. William Sears, seorang dokter spesialis anak di California berikut ini:


1. Jangan Memukul Balik
Bagi sebagian orangtua, memukul merupakan tindakan yang tepat untuk mendisiplinkan si kecil. Memukul atau menampar anak adalah cara sederhana agar dia mau mengerti. Namun, memukul balik bisa membuat anak menjadi bingung karena menasihati mereka dengan cara yang sama. Akan lebih baik bila bunda memperingatinya dengan tegas serta memberikan dia konsekuensi yang mendidik.

2. Cari Tahu Apa Pemicunya
Bila anak sering memukul, perhatikan apa pemicu sebenarnya. Apakah dia melakukan itu karena lelah, bosan, lapar, atau marah? Selain itu, bisa jadi dia juga terpengaruh oleh lingkungan keluarga atau sekelilingnya. Untuk mengatasi hal ini, coba perhatikan anak saat bermain lalu amati reaksinya terhadap anak-anak lain. Pastikan kalau dia tidak memukul, terutama ke wajah. Cara ini bisa membantu kita sebagai orangtua  mengurangi sikap anak yang suka memukul.

3. Tunjukkan Cara Berkomunikasi yang Baik
Dalam kebanyakan kasus, anak-anak sebenarnya tidak memukul orangtua karena marah atau frustasi, tapi karena mereka ingin mendapatkan perhatian lebih dari orangtua. Kunci untuk mengubah perilaku buruk tersebut dengan menunjukkan cara berkomunikasi yang baik. Sebagai contoh, kalau anak kesal, lalu memukul, sebaiknya bunda cepat merangkul serta memeluknya. Beritahukan bagaimana cara menepuk lengan atau wajah dengan lembut. Ingat, mengubah kebiasaan si kecil memang butuh kesabaran.

4. Buatlah Komunikasi yang Menyenangkan
Beberapa anak memiliki kebiasaan alami untuk menggunakan tangan mereka sebagai alat komunikasi. Maka dari itu, bunda perlu mengajari mereka dengan membuat komunikasi yang menyenangkan. Misalnya, begitu dia ingin memukul, cepat intervensi dengan menggerakkan tubuh dan katakan ‘ayo tos’. Hal itu akan membuat si kecil bingung, bisa jadi tersenyum dan tidak menjadi melakukannya. Cara ini dapat mengurangi kebiasaan buruk anak seiring berjalannya waktu.

5. Sediakan Banyak Waktu untuk Anak Anda
Luangkan waktu yang banyak agar bisa mengubah kepribadian si kecil. Sering-seringlah memeluk serta mengajak mereka bermain agar dia semakin dekat dengan Anda. Ajarkan dia menggunakan tangan secara lembut hingga anak benar-benar bisa mempraktekannya.
“Plok!” telapak tangan si kecil mendarat keras di lengan kanan temannya, karena kesal lantaran mobil balap favoritnya diambil temannya tanpa permisi. Memukul merupakan reaksi alami saat seseorang anak merasa kesal, marah, atau frustasi. Maka, tidak aneh jika di usia ini anak-anak sering saling pukul. Hal ini bisa dimaklumi karena:
- Belum tahu bagaimana cara yang tepat mengekspresikan rasa marah atau kesal.
- Mulai menyadari fungsi dan kekuatan tangannya. Dengan memukul, ia tahu reaksi lawannya.
- Belum bisa bicara. Bicara adalah ekspresi verbal. Anak yang belum bisa bicara menggunakan bahasa tubuh untuk menyampaikan maksudnya.
- Kelebihan energi dan tidak tahu cara menyalurkannya.
- Tidak tahu akibat dari pukulannya terhadap korban.
Meski anak punya alasan untuk memukul, bukan berarti bunda mengizinkannya main pukul untuk mengekspresikan perasaan atau menyalurkan kelebihan energinya.
Catatan:
- Hindari Teriakan“Jangan Pukul!” Teriakan bunda bukanlah cara yang tepat untuk melarang. Bunda perlu bicara tegas, diikuti penjelasan, tapi bukan berteriak. Misalnya, “Nah, jangan pukul temannya, ya. Karena temanmu bisa sakit.” Dari cara ini, anak dapat mendengar pesan dan mencerna penjelasan tanpa perlu harus mendengar teriakan bunda.

- Ganti Pukulan Dengan Kalimat. Ganti perilaku memukul dengan cara lain. Misalnya, ajarkan ia kata-kata seperti “Jangan ambil!”, “Ini punyakku!”, “Tidak Boleh!” atau “Pergi!”. Sehingga saat teman si kecil merebut mainan yang sedang dimainkan, ia dapat mengatakan kata-kata itu, sebagai bentuk pembelaan dirinya, bukan memukul.



(sumber: Hadila & petiteelle asia )






Rabu, 13 Mei 2015

Cara Mengatasi Mengompol pada Anak


Bunda, apakah si kecil masih sering mengompol ? Mengompol yang secara medis dikenal dengan sebutan nocturnal enuresis merupakan kondisi umum yang terjadi pada banyak anak, dan terkadang juga terjadi pada orang dewasa. Sekitar 10 % anak-anak berusia 5 tahun masih membasahi tempat tidur mereka hampir setiap malam. Anak yang mengompol pun mungkin akan merasa bersalah, takut, malu dan sedih dengan kebiasaanya tersebut.


Mengompol bukan saja bisa terjadi di rumah, tapi bisa juga terjadi ketika anak di sekolah. Kebiasaan mengompol ini harus segera diatasi karena kalau dibiarkan dapat membuat anak minder dan malu. Rasa minder, malu dan dan sedih ini dapat menimbulkan masalah-masalah baru, misalnya anak menjadi bahan olokan teman-teman sekolahnya, merasa kurang percaya diri berada diantara teman-temannya, tidak bisa menginap di rumah saudaranya atau ikut kegiatan berkemah dengan teman-temannya, dan lainnya.
Mengompol sesungguhnya bukanlah kesalahan anak. Untuk itu, sebaiknya bunda tidak langsung memarahi dan menghukum anak apabila anak mengompol. Bunda tentu tidak ingin anak merasa bermasalah atas sesuatu yang tidak dapat ia kendalikan. Menyalahkan dan menghukum anak hanya akan memperburuk masalah. Lebih baik cari solusi cara menanggulangi masalahnya.

Penyebab anak mengompol, baik di rumah maupun di sekolah:
  1. Gejala penyakit misalnya infeksi pada saluran kencing dan gangguang sistem saraf akibat tekanan psikologis.
  2. Ada masalah pada kandung kemihnya yang menyebabkan anak harus buang air kecil lebih sering, walaupun hanya sedikit urine saja atau sebelum kandung kemihnya penuh.
  3. Anak belum siap secara fisik karena sistem tubuhnya belum sempurna. Anak belum mampu menahan air kencing di kandung kemih, tidak menyadari kebutuhan buang air kecil, bangun dari tidur dan pergi ke kamar mandi.
  4. Anak belum terbiasa pergi ke toilet sendiri karena biasanya selalu dibantu oleh orang tua atau pun pengasuhnya dalam hal melepaskan dan mengenakan pakaian.
  5. Faktor keturunan dari orang tuanya.
  6. Anak tidak berani menyampaikan keinginan kepada gurunya bahwa ia mau menggunakan toilet di sekolahnya.
  7. Letak kamar kecil atau toilet terletak jauh dari kelas anak, gelap dan terpencil sehingga anak merasa takut pergi sendirian.
  8. Toilet sekolah berbeda dengan toilet di rumah dan anak Anda tidak merasa nyaman dengan model WC (jongkok atau duduk).
  9. Anak merasa cemas dan tidak aman, misalnya saja karena ditinggal cuti pengasuhnya, kelahiran adik baru, atau pindah ke rumah baru.
  10. Kebersihan toilet di sekolah yang digunakan oleh banyak orang tidak sebersih toilet di rumah, menyebabkan anak enggan untuk menggunakan toilet di sekolah.
Saat siang hari anak yang sudah terlatih untuk menggunakan toilet mungkin tidak memiliki kebiasaan mengompol. Sementara di malam hari karena jam tidur yang panjang, untuk tetap menjaga celana tetap kering sepanjang malam adalah keterampilan yang sulit dikuasai anak.

Terutama ketika anak tertidur sangat pulas. Ia belum menguasai keterampilan untuk bisa menahan, bangun dari tidurnya dan pergi ke toilet ketika kandung kemihnya penuh. Yakinkan anak bahwa mengompol adalah masalah yang umum terjadi pada anak-anak seusianya. Beri dukungan kepadanya dan katakan kepadanya bahwa ia pasti bisa mengatasi masalah tersebut.

Tips mengatasi kebiasaan mengompol pada anak:
  • Jelaskan kepada anak bahwa bunda tidak marah kepadanya karena ia mengompol. Bunda justru ingin membantunya mengatasi kebiasaan mengompolnya tersebut. Selain usia anak yang semakin besar, ingatkan juga pada anak bahwa mengompol akan menyebabkan anak merasa tidak nyaman karena baju, celana, kaki dan tempat tidurnya basah.
  • Untuk memudahkan penjelasan kepada anak mengenai pentingnya tidak selalu tergantung kepada popok, Bunda bisa mencari video di internet atau membeli buku yang memiliki gambar-gambar menarik menjelaskan cara yang dapat membantu mereka mengontrol kandung kemihnya dan mampu pergi ke toilet sendiri jika butuh buang air kecil.
  • Sebaiknya untuk mencegah anak mengompol adalah dengan melakukan beberapa latihan pada beberapa malam dulu. Cek popok anak setiap pagi hari untuk melihat apakah anak bisa menjaga popoknya untuk tetap kering sepanjang malam atau tidak. Usahakan sesegera mungkin setelah anak bangun dari tidurnya. Dengan begitu jika memang popoknya basah, maka bunda akan bisa melihat apakah pembasahan popok terjadi di malam hari atau pagi hari.
  • Jika setelah beberapa latihan saat malam hari anak selalu bisa menjaga popoknya untuk kering sampai pagi hari, maka itu berarti anak sudah siap untuk tidur dengan celana dalamya.
  • Bila dalam beberapa hari latihan anak tetap saja mengompol, mungkin memang anak belum siap untuk menjaga celananya tetap kering saat malam hari. Bunda bisa mengulangi latihan ini beberapa bulan kemudian. Tidak memaksa anak dan menunggu saat yang tepat adalah yang terbaik, dengan begitu bunda tidak perlu repot mengganti linen dan pakaian yang basah karena bekas mengompol setiap pagi.
  • Dalam masa latihan mungkin bunda bisa memberikan pull-up diaper kepada anak Anda yakni popok yang berbentuk seperti celana dalam anak.
  • Biasakan mengajarkan anak untuk mandiri pergi ke toilet sendiri tanpa dibantu oleh orang tua atau pun pengasuhnya dalam hal melepaskan dan mengenakan pakaian.
  • Ajarkan anak untuk berani menyampaikan keinginan kepada gurunya ketika ingin menggunakan toilet di sekolah.
  • Jangan pernah mempermalukan anak dengan memberitahukan kebiasaan mengompolnya tersebut di depan orang lain .
  • Batasi jumlah cairan yang diminum anak saat malam hari, terutama 1 – 2 jam sebelum tidur.
  • Ajak anak ke toilet dan buang air kecil beberapa saat sebelum waktu tidur. Buang air kecil sebelum tidur dapat dilakukan sebagai kegiatan rutin yang dilakukan anak sebelum beranjak tidur selain mandi, gosok gigi dan dibacakan cerita oleh ayah atau ibu.
  • Saat anak sudah tertidur, bunda bisa membangunkannya untuk pergi ke toilet pada jam tertentu atau sebelum akhirnya bunda beranjak untuk tidur juga. Bantu anak untuk membuka celananya dan perintahkan anak untuk buang air kecil. Setelah anak buang air kecil, bunda bisa membawa anak kembali ke kamar tidurnya untuk melanjutkan tidurnya.
  • Pastikan ada lampu tidur kecil yang menyala di jalan atau gang antara kamar anak dan toilet di rumah. Dengan begitu ia bisa melihat jalan ke kamar mandi apabila terbangun di malam hari dan ingin membangunkan orang tua untuk minta ditemani atau menggunakan toilet sendiri.
  • Beberapa orang tua berhasil menghilangkan kebiasaan mengompol anaknya dengan mengajak anak untuk pergi ke toilet dan buang air kecil secara rutin setiap jam di siang harinya.
  • Untuk memudahkan anak pergi ke toilet di malam hari, usahakan jalan antara kamar anak dan toilet bebas dari barang-barang atau mainan anak yang berserakan.
  • Walaupun mengompol bukanlah kesalahannya, sebaiknya bunda mendorong anak untuk turut bertanggung jawab dengan memintanya untuk membantu bunda saat membersihkan dan mengganti linen atau sprei yang basah.
  • Jika anak mengompol dengan tenang minta anak untuk segera mengganti pakaiannya yang basah dengan yang kering agar air kencingnya tidak menyebabkan iritasi pada kulitnya. Bila diperlukan bunda juga bisa memandikannya. Katakan kepada anak untuk mencoba tidak mengompol lagi malam berikutnya.
  • Selalu gunakan alas tidur dari bahan serap yang bisa dicuci sekaligus memiliki lapisan pelindung kasur tahan air.
  • Letakan alas tidur pelindung kasur dan linen serta pakaian kering anak di tempat terjangkau, dekat dengan anak. Sehingga bunda bisa mengganti linen dan pakaian anak dengan cepat apabila dibutuhkan.
  • Terkadang anak-anak yang sudah terlatih menggunakan toilet di siang hari masih memiliki kebiasaan mengompol di malam hari. Memang dibutuhkan waktu dan kesabaran mulai beberapa bulan sampai tahun bagi anak untuk bisa bebas dari popok sama sekali.
  • Berikan pujian, pelukan atau sticker yang dapat anak lekatkan ke ke papan khusus atau kalender setiap anak berhasil tidak mengompol. Berikan semangat dengan memberikan hadiah untuknya apabila anak berhasil menjaga celananya untuk selalu tetap kering.
  • Apabila bunda meninggalkan anak dengan pengasuh di rumah atau menitipkan anak kepada kakek dan neneknya, maka beritahukan jadwal kebiasaan mengajak anak ke kamar mandi pada jam-jam tertentu anak biasa buang air kecil. Usahakan latihan atau terapi supaya anak tidak mengompol terus berlanjut walaupun bunda tidak bersamanya.
  • Orang tua bisa berkonsultasi dengan dokter anak jika sampai usia 6 tahun ia masih memiliki kebiasaan mengompol untuk melihat apakah ada penyebab lain. Anak membutuhkan perawatan sebagaimana mestinya segera karena ada kemungkinan kebiasaan mengompolnya bisa jadi disebabkan banyak hal antara lain karena ada infeksi pada saluran kencingnya, faktor psikologis, diabetes dan masalah keluarga. 

( sumber: informasitips & klikcara )



Sabtu, 17 Januari 2015

Manfaat Berkemah Bersama Anak





Pernahkah Bunda mengajak anak-anak berkemah bersama ? Karena ternyata salah satu cara yang paling menyenangkan untuk mengajari anak cara menjadi mandiri dan kreatif adalah melalui kegiatan berkemah. Ada begitu banyak hal yang bisa dipelajari, mulai dari cara menutup tenda supaya nyamuk tidak masuk membanjiri tenda hingga menyiapkan perlengkapan tidurnya sendiri. Selain itu, anak-anak dapat diajak bertualang di alam sambil belajar membaca peta dan kompas. Hal ini tidak hanya akan mendorong anak untuk menjadi lebih kreatif, tetapi juga mengajari mereka untuk lebih menghargai lingkungan hidup sekitarnya.

Buat berkemah menjadi menarik

Yang membuat berkemah begitu menarik adalah hal ini tidak harus selalu dilakukan dengan bepergian ke area khusus berkemah atau pegunungan. Bahkan, berkemah bisa dimulai dari tempat terdekat yakni halaman belakang rumah sendiri. Dengan demikian, berkemah tetap bisa dilakukan sekaligus mendapatkan keamanan dan kenyamanan. Setelah terbiasa berkemah di halaman rumah dan si kecil sudah menguasai teknik-teknik mendasar yang dibutuhkan untuk berkemah, selanjutnya kegiatan berkemah bisa dilakukan di area berkemah atau kaki pegunungan.

Agar berkemah lebih seru dan ramai, undang juga teman-teman si kecil untuk ikut acara berkemah. Dengan begitu, Bunda bisa membuat beberapa permainan seru yang membutuhkan kerja sama mereka. Atau, Bunda bisa membuat acara petualangan dengan membagi peserta ke dalam beberapa kelompok dan memberikan tantangan-tantangan yang harus dilewati oleh kelompok tersebut selama petualangan. Tentunya tantangan-tantangan ini harus edukatif, menyenangkan, dan berhubungan dengan lingkungan. Bunda juga dapat bertanya kepada si kecil, siapa tau dia memiliki ide bermain yang tak kalah menarik.


Anak akan belajar banyak

Untuk bisa tahu apakah acara yang Bunda susun sukses menarik anak untuk belajar dari alam, cukup lihat noda-noda yang ada di pakaian setelah acara kemping. Semakin banyak noda di pakaian, berarti semakin besar momen belajar sambil bermain yang dilakukan anak dan teman-temannya. Itu juga menandakan mereka menikmati susunan acara kemping yang Bunda buat.

Jangan khawatir dengan noda-noda tersebut, banyak cara menghilangkannya secara mudah dengan mesin cuci di rumah. Tidak masalah jenis mesin cuci yang Bunda miliki, baik itu mesin cuci 1 tabung maupun 2 tabung sama-sama bisa membantu. Bahkan noda yang paling membandel sekalipun bisa dihilangkan dengan mudah. Untuk informasi lebih lengkap mengenai cara menghapus berbagai jenis noda di pakaian menggunakan mesin cuci 1 tabung ataupun jenis lainnya, situs-situs unggulan menyediakan beberapa informasi yang bermanfaat.

Kalau Bunda butuh bantuan untuk membuat acara berkemah yang edukatif dan menyenangkan, sekarang banyak event organizer yang berpengalaman membuat acara persis seperti yang Bunda inginkan. Bunda cukup datang dengan semangat tinggi dan senyum lebar.

Jadi, jangan tunda lagi, adakan kegiatan berkemah secepatnya dan arungi petualangan yang menantang sekaligus menyenangkan. Yuk ajak si kecil berkemah bersama !


( Rinso Indonesia )