Jumat, 18 Oktober 2013

Cari Tahu Penyebab & Cara Mengatasi Bila si Kecil Muntah



Muntah adalah suatu gejala bukan merupakan sebuah penyakit. Gejala ini berupa keluarnya isi lambung dan usus melalui mulut dengan paksa atau dengan kekuatan. Muntah merupakan refleks protektif tubuh karena dapat berfungsi melawan toksin yang tidak sengaja tertelan. Selain itu, muntah merupakan usaha mengeluarkan racun dari tubuh dan bisa mengurangi tekanan akibat adanya sumbatan atau pembesaran organ yang menyebabkan penekanan pada saluran pencernaan. Secara umum, muntah terdiri atas tiga fase, yaitu mual, retching atau manuver awal untuk muntah, dan regurgitasi atau pengeluaran isi lambung, usus ke mulut.

Muntah pada anak sering menimbulkan kecemasan bagi orang tua. Hal tersebut sangat wajar karena muntah yang terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) yang merupakan salah satu kondisi kegawatdaruratan pada anak.

Hal tersebut selanjutnya mengakibatkan peningkatan tekanan di dalam perut khususnya lambung dan mengakibatkan keluarnya isi lambung sampai ke mulut. Beberapa kondisi yang dapat merangsang pusat muntah di antaranya berbagai gangguan di saluran pencernaan baik infeksi termasuk gastroenteritis karena rotavirus dan non infeksi seperti obstruksi saluran pencernaan, toksin (racun) di saluran pencernaan, gangguan keseimbangan, dan kelainan metabolik.

Inilah 15 Penyebab Muntah
Catatan : Penyebab sering (no 1-2) dan penyebab jarang (no. 3-15)

1.  Infeksi virus dan gastroentritis akut.

Penyebab paling sering adalah infeksi virus di antaranya adalah gastroenteristis akut biasanya oleh virus khususnya rotavirus. Infeksi diare pada anak paling sering disebabkan karena infeksi rotavirus. Infeksi diare karena rotavirus ini sering diistilahkan muntaber atau muntah berak. Gejala infeksi rotavirus atau virus lainnya berupa demam ringan, diawali muntah sering, diare hebat, dan atau nyeri perut. Muntah dan diare merupakan gejala utama infeksi rotavirus dan dapat berlangsung selama 3-7 hari. Infeksi rotavirus dapat disertai gejala lain yaitu anak kehilangan nafsu makan, dan tanda-tanda dehidrasi. Infeksi rotavirus dapat menyebabkan dehidrasi ringan dan berat, bahkan kematian. Infeksi virus bukan rotavirus biasanya hanya terdapat keluhan muntah sering tanpa diikuti diare yang hebat
   
2. Penderita alergi dan hipersensitif saluran cerna.

Pada anak penderita alergi khususnya dengan gastrooesephageal refluks. Pada penderita ini, biasanya keluhan muntah atau gumoh sering saat usia di bawah usia 6- 12 bulan. Setelah usia itu keluhan berangsur berkurang dan akan membaik palaing lama setelah usia 5-7 tahun. Pada umumnya usia 3-6 bulan muntah hanya 2-5 kali perhari dan kan membaik dengan pertambahan usia. Serangan gangguan muntah akan lebih berat saat terjadi infeksi saluran napas atau infeksi virus lainnya. Keluhan infeksi virus biasanya disertai keluhan demam, badan hangat, badan pegal, nyeri otot, sakit kepala, nyeri tenggorokan, batuk atau pilek. Makanan pada penderita alergi makanan bisa menyebabkan muntah tetapi hanya lebih ringan dan dalam beberapa saat akan berkurang. Penderita alergi dengan GER biasanya disertai dengan alergi pada kulit, hidung dan saluran napas.
   
3. Stenosis pilorus

Ini merupakan gangguan yang terjadi pada bayi berupa penyempitan pada bagian ujung lubang tepat makanan keluar menuju ke usus halus. Akibat penyempitan tersebut, hanya sejumlah kecil makanan bisa masuk ke usus, selebihnya akan dimuntahkan sehingga anak mengalami penurunan berat badan. Kondisi ini biasanya menyebabkan "muntah proyektil" sangat kuat dan merupakan indikasi untuk operasi mendesak.

4. Obstruksi usus (sumbatan pada saluran cerna)

5. Terlalu banyak makan
6. Peritonitis (radang pada selaput perut yang membungkus seluruh organ perut dan membatasi rongga  perut)

7.  Ileus (berhentinya untuk sementara kontraksi normal dinding usus)

8. Kolesistitis (peradangan pada kandung empedu), pankreatitis (peradangan pada pankreas), usus buntu, hepatitis (peradangan pada hati)

9. Keracunan makanan
10.  Sistem sensorik dan otak

Penyebab dalam sistem sensorik di antaranya adalah gerakan, motion sickness (yang disebabkan oleh overstimulation dari labirin kanal-kanal telinga), dan penyakit ménière (kelainan yang memengaruhi bagian dalam telinga). Penyebab di otak di antaranya, gegar otak, perdarahan otak, migrain, tumor otak, yang dapat menyebabkan kerusakan kemoreseptor dan intrakranial jinak hipertensi dan hidrosefalus.

11. Gangguan metabolik

Ini mungkin mengganggu baik pada perut dan bagian-bagian otak yang mengkoordinasikan muntah, hypercalcemia (kadar kalsium tinggi), uremia (penumpukan urea, biasanya karena gagal ginjal), adrenal insufisiensi, hipoglikemia dan hiperglikemia.

12. Hiperemesis (mual berlebihan pada saat kehamilan), morning sickness.

13.  Reaksi obat

Muntah dapat terjadi sebagai respon somatik akut, efek dari alkohol, opioid, selective serotonin reuptake inhibitor. Banyak obat kemoterapi dan beberapa entheogen (seperti peyote atau ayahuasca) menyebabkan muntah.

14  Penyakit akibat virus norwalk
, flu babi dan berbagai penyakit infeksi lainnya.

15.  Lain-lain:

-  Gangguan makan (anoreksia nervosa atau bulimia nervosa)
-  Untuk menghilangkan racun tertelan (beberapa racun tidak boleh dimuntahkan karena mereka mungkin lebih beracun ketika dihirup atau disedot, karena lebih baik untuk meminta bantuan sebelum menginduksi muntah)
-  Beberapa orang yang terlibat dalam pesta minuman keras akan mengalami muntah guna memberi ruang dalam perut mereka untuk konsumsi alkohol lebih lanjut.
-  Pasca operasi (mual dan muntah pasca operasi)
-  bau atau pikiran (seperti materi membusuk, muntah orang lain, memikirkan muntah), dll
-  Nyeri ekstrim, seperti sakit kepala yang intens atau infark miokard (serangan jantung)
-  Kekerasan, emosi
-  Sindrom muntah siklik (Cyclic Vomiting Syndrome/CVS) (kondisi buruk-dipahami dengan serangan muntah)
-  Dosis tinggi radiasi pengion kadang-kadang akan memicu refleks muntah di korban
-  Batuk, cegukan, atau asma
-  Gugup
-  Melakukan aktivitas fisik (seperti berenang) segera setelah makan.
-  Dipukul keras di perut.
-  Kelelahan (melakukan latihan berat terlalu banyak dapat menyebabkan muntah tak lama kemudian).
-  Sindrom ruminasi, gangguan kurang terdiagnosis dan kurang dipahami yang menyebabkan penderita memuntahkan makanan yang tak lama setelah dikonsumsi.

Dampak dan komplikasi

-  Dehidrasi. Pada saat muntah, maka isi perut yang kebanyakan adalah cairan akan keluar, sehingga membuat tubuh kehilangan cairan yang tadinya penting untuk berperan dalam homeostasis. Dehidrasi ini akan berimplikasi hipovolemik pada tubuh, kulit kering, rasa haus, lemas, anak gelisah. Bila berat dapat terjadi napas cepat, tekanan darah turun, gangguan jantung, kejang, penurunan kesadaran, bahkan dapat mengancam jiwa.

-  Acidosis metabolik, akibat kekurangan H+ pada lambung.

- Kerusakan gigi akibat tergerus asam lambung (perimylolysis). Pada saat muntah, asam lambung akan keluar bersamaan dengan isi perut. Ketika asam lambung keluar dan berada di dalam mulut, maka akan merusak email gigi sehingga gigi menjadi rapuh dan gampang rusak.

Penanganan

-  Pemberian cairan (minum) untuk menggantikan cairan yang telah hilang dan mencegah terjadinya dehidrasi.

-   Posisikan anak pada posisi telungkup atau miring (miring ke kiri atau ke kanan) untuk menghindari isi muntahan masuk ke saluran napas.

-  Perhatikan tanda-tanda dehidrasi. Dehidrasi adalah keadaan tubuh kekurangan cairan. Dehidrasi dapat terjadi apabila anak muntah terus-menerus. Dehidrasi yang berat dapat mengancam nyawa.

-   Tetap berikan cairan. Pemberian cairan (minum) sangat penting untuk mencegah anak dehidrasi. Apabila anak menolak, tetap bujuk anak untuk minum. Untuk Bayi, bila anda masih menyusui, berikan ASI. Dokter mungkin akan menambahkan cairan elektrolit (oralit). Bila bayi anda mendapatkan susu formula, dokter mungkin akan menggantikan sementara susu formula dengan oralit selama 12-24 jam pertama, atau menganjurkan untuk memberikan susu formula yang 2 kali lebih encer dibandingkan susu formula yang biasa diberikan.

Untuk anak yang lebih besar dapat diberikan air, air bercampur gula (1 sendok teh gula dalam 120 ml air), dan oralit. Berikan cairan dalam jumlah sedikit-sedikit tapi sering (1 sendok teh tiap 1-2 menit). Apabila toleransi anak baik atau tidak muntah lagi, tingkatkan jumlah cairan secara bertahap. Apabila anak tetap muntah, tunggu 30-60 menit terhitung sejak muntah terakhir, lalu berikan 1 sendok teh cairan setiap 1-2 menit. Pemberian cairan dalam jumlah sedikit namun frekwensinya sering relatif lebih mudah ditoleransi anak dari pada pemberian dalam jumlah banyak sekaligus.

-  Modifikasi pola makan. Hindari pemberian makanan yang padat, berserat dan keras dan berlemak karena makanan tersebut relatif lebih lama dicerna dan dapat merangsang muntah.

-  Saat muntah berlebihan atau melebihi 5 kali sehari sebaiknya dipuasakan sementara sambil minum obat muntah. Setelah 1 jam baru boleh minum sedikit-sedikit tapi sering.


*sumber: kompas


 

Senin, 23 September 2013

Yuuk..Cari Tahu Bila Bayi Tidur tak Nyenyak..


Tahukah bunda bahwa kurang tidur pada bayi bisa mengakibatkan berbagai masalah? Mulai dari penurunan kekebalan tubuh, gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan juga kurang tidur mempunyai dampak terhadap tumbuh kembang otak bayi, terutama kemampuan berpikirnya ketika ia dewasa.
Sebagian besar kerja hormon pertumbuhan terjadi ketika dalam keadaan tidur, termasuk hormon pertumbuhan otak bayi.

Kurangnya tidur akan mengakibatkan perubahan kadar hormon yang bertugas mengatur rasa lapar. Selain itu, kurangnya tidur juga mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melakukan metabolisme gula, sehingga meningkatnya resiko terhadap diabetes.

Jadi, jelaslah bahwa tidur yang cukup memberi efek yang amat positif bagi perkembangan bayi Anda. Idealnya,  anak usia 6 – 23 bulan memerlukan waktu tidur sekitar 13 jam setiap harinya. 

Beberapa Hal yang Menyebabkan Bayi Susah Tidur Serta Solusinya 

- Sakit Flu atau Batuk

Jika bayi Anda menderita flu atau batuk, maka ia akan sulit tidur nyenyak, karena sebentar-sebentar terbatuk. Hidungnya pun terus menerus mengeluarkan cairan atau tersumbat, sehingga membuatnya susah bernafas.
Solusi:
Usahakan agar posisi kepala bayi lebih tinggi dari kaki. Jangan lupa, beri minum agar tenggorokannya lebih nyaman. Jika hidungnya tersumbat, Anda bisa menyedot ingusnya dengan alat penyedot ingus khusus untuk bayi. Oleskan juga balsam khusus untuk anak-anak di dadanya, ini akan membantu melegakan hidungnya.

-Kolik

Kolik sebenarnya bukan suatu penyakot, tetapi lebih tepat kalau digolongkan sebagai istolah umum unk mrnjelaskan sebuah kondisi. Gejala utamanya adalah rewel yang berkepanjangan, yang disertai tangisan. Biasanya kondisi ini terjadi menjelang sore hingga waktu tidurnya.

Sekitar 20% bayi sehat pernah mengalami kolik. Kondisi ini biasanya terjadi antara minggu ke-2 dan ke-4 setelah lahir.
Jika Anda sedang menyusui, sebaiknya Anda menghindari produk susu olahan serta makanan yang menimbulkan gas, seperti kubis, bawang, dan bawang putih. Berkonsultasilah dengan ahli kesehatan tentang cara menangani alergi terhadap makanan tertentu.
Untuk mengatasi kolik, bila Anda memberikan susu formula pada bayi Anda, mintalah petunjuk ahli kesehatan apakah sebaiknya menggantinya dengan formula bebas susu atau formula bebas laktosa.
Jika kolik yang dialami merupakan bagian dari fase pertumbuhan, maka hal ini akan hilang seiring dengan waktu.

-Haus atau Lapar

Biasanya, bayi Anda akan gelisah tidurnya kalau tidak cukup asupan makanan atau susu.
Solusi: Coba beri makan bayi Anda menjelang tidur bagusnya 1 jam sebelum tidur.

-Basah

Rata-rata bayi usia 6 bulan mengompol sekitar 5-7 kali dalam semalam, maka segeralah ganti popoknya apabila basah, dengan begitu si kecil akan lebih nyenyak tidurnya.

-Ruam Popok 

Ruam popok umumnya dialami oleh bayi berusia 4-15 bulan. Penyebabnya bisa karena sering buang air, kebersihan kulit yang tidak terjaga, atau bisa juga dikarenakan bayi Anda menerima asupan antibiotik dari ASI sang ibu.

Bahkan, jika bakteri yang terdapat dalam urine bayi Anda terurai menjadi amonia, ruam ini bisa bertambah parah. Tentu saja keadaan ini sangat tidak menyenangkan buat si kecil, sehingga bisa mempengaruhi kualitas tidurnya.
Bila ruam popok sudah terlanjur menimpa bayi Anda, agar tidak bertambah parah, berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan:
  1. Gantilah popok yang basah sesering mungkin
  2. Hindari penggunaan tisu basah karena dapat menambah iritasi
  3. Cukup keringkan bagian yang basah dengan cara menepuk kulitnya, jangan digosok
  4. Gunakan krim pelindung dengan dioleskan tipis di kulit bayi
  5. Hindari menggunakan popok terlalu kencang
Selain itu, pilihlah jenis popok dari bahan kain yang menyerap keringat atau bahan disposibel (sekali pakai).

-Terlalu Banyak Bermain 

Jika Anda mengajak si kecil bermain terus, maka ia akan semakin enggan untuk tidur. Apalagi, jika Anda mengajaknya bermain menjelang waktu tidurnya.

Nah, untuk menghindari hal ini, maka Anda harus tanggap. Bila bayi Anda sudah mulai mengucek-ucek mata, sering menguap, atau telinganya ditarik-tarik, besar kemungkinan ia sudah mengantuk. Hentikanlah aktivitas Anda bersamanya dan buatlah suasana yang dapat memudahkan bayi Anda tidur dengan tenang.


sumber : tipsbayi.com


Minggu, 25 Agustus 2013

Tips Mengatasi Anak yang Masih Mengompol


Bunda apakah si kecil masih mengompol padahal ia sudah berusia lima tahun lebih ?
Pada usia lima tahun, anak seharusnya sudah bisa mengatur panggilan alaminya untuk ke toilet. Andai ia masih kesulitan dengan urusan buang air kecil, segeralah beri bantuan. Jika tidak diatasi, anak juga bisa merasakan dampak negatif dari ketidakmampuannya mengontrol desakan untuk pipis.

Psikolog Sani B Hermawan menjelaskan, idealnya setelah usia lima tahun anak harus berhenti mengompol. Sebab, pada usia lebih dari 18 bulan saja anak sudah mulai bisa diajak untuk beralih dari popok ke toilet. Ketika itu, otot-otot kandung kemihnya sudah lebih matang.

Pada usia tersebut, anak umumnya juga bisa memahami perintah sederhana. Dia pun mampu menahan kemih selama dua sampai tiga jam. Amati saja siklus pipisnya. Sediakan potty chair yang nyaman dan menarik. Lalu, dengan cara yang menyenangkan, ajak anak berkemih.

Bagaimana dengan anak yang lebih besar namun masih suka mengompol? ”Penyebabnya beragam, termasuk pola asuh orang tua yang salah dan orang tua tidak konsisten,” paparnya.

Selain itu, anak tidak menjalankan konsekuensi atau hukuman yang diberikan orang tua ketika ia mengompol. “Ini karena anak malas, tidak mau mematuhi peraturan,” tambahnya. Tak hanya itu, anak yang terlalu capai pada siang hari juga bisa memicu ia mengompol pada malam harinya. “Ini karena aktivitasnya memacu gerakan peristaltiknya,” ujarnya.

Penyebab lain, bisa karena anak terlalu banyak mengonsumsi soda. Tetapi, anak mengompol, menurut Sani, juga bisa karena ada kelainan organ dalam anak. “Coba amati mana penyebab yang paling sesuai dengan kondisi anak dan berikan bantuan yang tepat.”

Bagaimana anak yang suka mengompol pada siang hari? Anak membasahi celananya pada siang hari biasanya karena ia menahan pipis. Kemungkinan besar dia malas, takut, atau sedang asyik bermain. Dibutuhkan konsistensi agar anak tidak melulu mengandalkan popok.

Lalu, bagaimana cara mengatasi anak yang masih suka mengompol? Kebiasaan mengompol pada anak bukanlah hal yang mudah. Diperlukan peran yang kuat dari orang tua dan anak itu sendiri. “Untuk mengatasi anak agar tidak mengompol perlu dilakukan toilet training,” kata Sani.

Toilet training adalah cara anak untuk mengontrol kebiasaan buang air kecil. Proses ini membutuhkan waktu, pengertian, dan kesabaran. Yang paling penting diingat adalah orang tua tidak bisa mengharapkan dengan cepat si anak langsung bisa menggunakan toilet. “Tetapi, pada usia lima tahun, training ini harus sudah berhasil dilakukan,” ucap Sani.

Kalau tidak berhasil, anak akan alami gangguan psikologis. Anak menjadi tidak percaya diri menyusul celana basahnya. “Itu sebabnya kemampuan berkemih di toilet dianggap sebagai pencapaian besar bagi anak,” ujar Sani.

Toilet training:

1. Sebelum tidur ajak anak buang air kecil terlebih dahulu.

2. Bangunkan anak setelah tidur pada malam hari untuk buang air kecil. Jika jam tidur anak delapan jam, bangunkan anak 4 jam setelah tidur.

3. Kurangi minum soda. Soda mengandung bahan perangsang metabolisme yang memicu anak berkemih.

4. Perbanyak minum air putih.

5. Berikan konsekuensi pada anak yang suka mengompol. Ajak anak mencuci bekas ompol, angkat seprai, dan celana bekas ompol. Harus ada kesadaran bahwa ada konsekuensi kalau anak mengompol.

6. Gunakan alarm anti mengompol. Misalnya, pada jam tertentu ajarkan anak buang air di kamar mandi. Untuk anak yang agak besar akan mengerti, tetapi untuk anak yang kecil tentu sangat menantang. Mereka harus selalu diingatkan.

7. Orang tua harus mau capai mengingatkan anaknya untuk buang air kecil di kamar mandi setiap satu jam atau satu jam setengah pada siang hari. Pada malam hari, orang tua harus rajin bangun untuk mengingatkan anak buang air kecil. Ini akan membuat anak tidak malas buang air kecil.

8. Orang tua juga harus peka, pantau anak yang sudah mulai gelisah ketika hendak buang air kecil. Saat itu segera bawa anak ke kamar mandi.

9. Harus ada kerja sama dan bagi tugas antara suami dan istri.

10. Jangan biarkan anak buang air kecil di kasur atau di celana dengan memberikan anak popok.


(sumber: republika.co.id)



Minggu, 04 Agustus 2013

Tips Mengatasi Anak yang "Bertingkah"


 foto diambil dari technorati.com

Jika anak senang mengganggu, memukul, menggigit, dan meludah ( bertingkah ) banyak orang tua panik. Sebenarnya, mereka tidak perlu merasa bersalah. Secara teknis, anak tidak bisa menjadi seorang bully (yang suka menggencet) di usia sekecil ini. “Anak usia 2 dan 3 tahun belum benar-benar memahami emosinya ataupun emosi orang lain. Jadi, mereka tidak dengan sengaja ingin menyakiti perasaan orang,” kata Edward Carr, PhD, leading professor di departemen psikologi di State University of New York, Stony Brook.

Anak menguji sebab akibat secara konsisten – “Apa yang akan terjadi kalau aku melakukan ini?” Mereka juga memakai satu-satunya alat yang mereka punya, kata Theodore Dix, PhD, lektor kepala di bidang ilmu perkembangan manusia dan keluarga di University of Texas, Austin. “Mereka tidak punya kemampuan untuk mendapatkan yang mereka inginkan melalui cara yang masuk akal, jadi mereka bisa memaksa atau membangkang,” ujarnya.

Bagaimanapun, Bunda tidak bisa diam saja saat anak bersikap kasar. Bila tidak turun tangan sekarang, dia bisa menjadi bully sungguhan saat dia sudah lebih besar karena dia tidak tahu cara lain untuk mengekspresikan kebutuhannya. Berikut cara menghentikan agresivitas anak.

- Setrap. Jika Anda melihat anak Anda memukul, menggigit, atau meludah, segera hentikan. Cobalah bicara dengan tenang. Jika dia tidak mau mendengarkan, bawa dia ke tempat yang lebih sepi dan katakan, “Kamu sudah keterlaluan. Kamu perlu disetrap agar kamu tenang.”

- Jangan minta penjelasan. Meminta anak menjelaskan perbuatannya yang salah bisa diartikan bahwa ada waktu-waktu tertentu dimana dia boleh bersikap kasar. Bukan berati Anda tidak perlu mencari penyebabnya. Bila anak Anda menjambak rambut temannya yang menguasai ayunan, arahkan mereka agar bergiliran setelah Anda selesaikan masalah penjambakan tadi. “Ini menunjukkan kepada anak bahwa dia hidup di dunia yang adil, dan bila dia memberitahu Anda tentang sesuatu yang dirasakanya tidak adil atau mengesalkan, Anda akan berusaha memperbaikinya,” Dr. Dix menjelaskan.

- Jangan naik darah. Sebagian anak percaya bahwa perhatian dalam bentuk apapun akan mengalahkan sikap acuh. Jadi, jika Anda panik saat si kecil berbuat salah, dia akan senang (Wah, Mama sewot!”) dan dia akan terdorong untuk bertingkah lagi.

- Hubungkan perbuatan anak dengan perasaan orang lain. Batita punya pemahaman yang terbatas mengenai dampak perilaku mereka terhadap orang lain. “Anak Anda perlu tahu perasaan temannya ketika ditendang. Katakan, “Sam sakit karena kamu tendang dia.” Katakan bahwa Anda tahu betapa sulit untuk berbagi, tapi menendang teman bukan hal yang benar.

- Bantu anak menenangkan diri. Batita akan merasa kesal, sama seperti orang dewasa, ketika dia marah. Setelah menyetrapnya sebentar, bicaralah kepadanya dengan nada yang menenangkan dan menghibur. Katakan, “Mama tahu, tidak enak rasanya kalau marah dan membuat orang lain juga merasa tidak enak.” Ini akan membantu anak mengerti perasaannya dan belajar membedakan berbagai perasaan.

-  Jangan paksa anak menyertakan anak lain. Adakalanya anak Anda bertingkah layaknya bully dengan menyingkirkan anak lain. Ini sebenarnya tahap normal dalam perkembangan sosial, kata Dr. Carr. “Dalam kelompok kecil, batita mendapatkan ‘dukungan’ dari teman-temannya ketika dia tidak membolehkan anak lain untuk ikut bermain,” ujarnya. “Dengan menyingkirkan anak lain, anak Anda ‘memberikan’ keistimewaan kepada teman-temannya.” Solusinya: Cari waktu saat dia dan teman yang disingkirkan tadi sedang tidak bersama, dan biarkan anak Anda tahu bahwa Anda melihat yang terjadi. Jelaskan bahwa menyingkirkan orang lain bukan perbuatan yang baik.

- Mulailah mengajarkan kecakapan menyelesaikan masalah. Lakukan dengan cara yang menyenangkan. Gunakan permainan imajinatif untuk membantu anak belajar cara-cara positif dalam menyelesaikan masalah yang rumit. Anda bisa berpura-pura menjadi teman yang merebut mainan favorit anak Anda. Ajarkan dia cara mengucapkan, “Itu mainanku –tolong dikembalikan.” Jika tidak berhasil, katakan kepadanya agar minta bantuan orang dewasa. Latih adegan ini sesering mungkin hingga pelajaran terserap dengan baik. Coba terus, dalam waktu singkat dia akan menjadi anak yang sangat manis.

Semoga tips ini bermanfaat ya bunda :)


( sumber : parentsindonesia.com )




Kamis, 06 Juni 2013

Manfaat Bermain pada Anak-anak



Setelah berkutat seharian dengan pelajaran sekolah anak membutuhkan waktu refreshing agar tidak jenuh dalam aktivitasnya. Bermain dengan teman-temannya adalah salah hal yang sangat disenangi anak dan juga dapat menghilangkan kejenuhan anak.
Tahukah bunda bila anak bermain dengan teman-temannya ternyata ada banyak manfaat yang diperoleh untuk si kecil..

Berikut ini 9 manfaat bermain bagi anak menurut buku 'Games Therapy untuk Kecerdasan Bayi dan Balita' yang ditulis oleh Psikolog Effiana Yuriastien dan kawan-kawan:

1. Memahami diri sendiri dan mengembangkan harga diri
Ketika bermain, anak akan menentukan pilihan-pilihan. Mereka harus memilih apa yang akan dimainkan. Anak juga memilih di mana dan dengan siapa mereka bermain.

Semua pilihan itu akan membantu terbentuknya gambaran tentang diri mereka dan membuatnya merasa mampu mengendalikan diri. Permainan memotong kertas, mengatur letak atau mewarnai misalnya dapat dilakukan dalam beragam bentuk. Tidak ada batasan yang harus diikuti.

Identitas dan kepercayaan diri dapat berkembang tanpa rasa ketakutan akan kalah atau gagal. Pada saat anak menjadi semakin dewasa dan identitasnya telah terbentuk dengan lebih baik, mereka akan semakin mampu menghadapi tantangan permainan yang terstruktur, bertujuan dan lebih dibatasi oleh aturan-aturan.

2. Menemukan apa yang dapat mereka lakukan dan mengembangkan kepercayaan diri.
Permainan mendorong berkembangnya keterampilan, fisik, sosial dan intelektual. Misalnya perkembangan keterampilan sosial dapat terlihat dari cara anak mendekati dan bersama dengan orang lain, berkompromi serta bernegosiasi.

Apabila anak mengalami kegagalan saat melakukan suatu permainan, hal itu akan membantu mereka menghadapi kegagalan dalam arti sebenarnya dan mengelolanya pada saat mereka benar-benar harus bertanggungjawab.

3. Melatih mental anak
Ketika bermain, anak berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di dalam dirinya. Anak mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki sekaligus mendapatkan pengetahuan baru.

Orangtua akan dapat semakin mengenal anak dengan mengamati saat bermain. Bahkan, lewat permainan (terutama bermain pura-pura) orangtua juga dapat menemukan kesan-kesan dan harapan anak terhadap orangtua serta keluarganya.

4. Meningkatkan daya kreativitas dan membebaskan anak dari stres
Kreativitas anak akan berkembang melalui permainan. Ide-ide yang orisinil akan keluar dari pikiran mereka, walaupun kadang terasa abstrak untuk orangtua.

Bermain juga dapat membantu anak untuk lepas dari stres kehidupan sehari-hari. Stres pada anak biasanya disebabkan oleh rutinitas harian yang membosankan.

5. Mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak
Dalam permainan kelompok, anak belajar tentang sosialisasi. Anak mempelajari nilai keberhasilan pribadi ketika berhasil memasuki suatu kelompok. Ketika anak memainkan peran 'baik' dan 'jahat', hal ini membuat mereka kaya akan pengalaman emosi. Anak akan memahami perasaan yang terkait dari ketakutan dan penolakan dari situasi yang dia hadapi.

6. Melatih motorik dan mengasah daya analisa anak
Melalui permainan, anak dapat belajar banyak gal. Di antaranya melatih kemampuan menyeimbangkan antara motorik halus dan kasar. Hal ini sangat memengaruhi perkembangan psikologisnya.

Permainan akan memberi kesempatan anak untuk belajar menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus memecahkan masalah. Anak-anak akan berusaha menganalisa dan memahami persoalan yang terdapat dalam setiap permainan.

7. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan anak
Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain, seringkali dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpin dalam kehidupan nyata, mungkin akan memperlohen pemenuhan keinginan itu dengan menjadi pemimpin tentara saat bermain.

8. Standar moral
Walaupun anak belajar di rumah dan sekolah tentang apa yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral selain dalam kelompok bermain.

9. Mengembangkan otak kanan anak
Bermain memiliki aspek-aspek yang menyenangkan dan membuka kesempatan untuk menguji kemampuan dirinya berhadapan dengan teman sebaya serta mengembangkan perasaan realistis akan dirinya. Dengan begitu, bermain memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan otak kanan, kemampuan yang mungkin kurang terasah baik di sekolah maupun di rumah.

Catatan: Berikanlah pujian kepada anak dengan menggunakan kalimat yang positif dan mampu menjadi penyemangatnya dalam melakukan sesuatu dengan lebih baik lagi. Contoh, saat anak diminta mengambil spidol warna merah, awali dengan kata 'tolong'. Jika anak berhasil mengambilnya, berikan pujian dan ucapkan terimakasih.

Demikian juga ketika ia tidak berhasil menemukannya, ucapkanlah kalimat positif yang tidak mematahkan semangatnya. Tetap ucapkan terimakasih atas hasil jerih payahnya. Misalnya saja, "Makasih ya adik sudah mencarikan spidolnya. Spidolnya ada di dekat buku gambar adik."
 

(sumber: kaskus & motherhood )



Rabu, 29 Mei 2013

Bila Bayi Ngorok


Tidur bayi merupakan saat beristirahat dari kelelahan dan memiliki peran penting dalam pertumbuhan bayi. Dalam tidur bayi, seringkali ditemui bayi yang memiliki bunyi nafas seperti orang mendengkur. Sebenarnya bayi ngorok adalah hal yang wajar selama tidak mengganggu kesehatan bayi dan memang hal ini sering terjadi pada banyak bayi. Bahkan bayi ngorok bisa menjadi penanda bahwa tidur bayi sangat pulas dan memiliki kualitas tidur yang baik.

Bayi ngorok tidaklah berbahaya jika tetap bisa beraktivitas dengan baik, masih bisa makan atau menyusui dengan lancar, dan tidak mengalami gangguan penyakit atau demam. Bayi ngorok ini disebabkan karena terjadinya penyumbatan pada jalan napasnya. Jadi pada saat bayi ngorok, aliran udara yang masuk dan keluar melalui hidung tidak lancar akibatnya timbul bunyi nafas.

Beberapa bayi mengalami penyumbatan saluran nafas karena banyak faktor. Misalnya karena bayi memiliki riwayat alergi seperti alergi debu, binatang, asap rokok dan sebagainya. Jika hal ini yang terjadi, maka cara mengatasinya adalah mengenali alergi bayi terlebih dulu dan hindarkan dari pemicunya. Selain itu, bayi ngorok bisa menjadi pertanda dia mengalami obesitas. Jika hal ini yang terjadi maka pola makan bayi harus mulai dijaga. Bisa juga bayi ngorok karena sedang flu.

Cara mengatasi bayi ngorok karena flu
Dengan menegakkan tubuh bayi dengan menyangganya menggunakan tangan kemudian mengusap dadanya secara pelan. Bisa juga mengatasi dengan meletakkan bayi agar tengkurap lalu menepuk punggungnya. Namun jangan melakukan hal ini jika bayi baru saja makan.

Cara lain untuk mengatasi bayi ngorok
Dengan mengubah posisi saat tidur yakni memiringkannya. Memiringkan posisi tidur bayi bisa lebih memperlancar saluran nafas dan mengurangi suara ngorok. Cara lainnya adalah dengan bersabar karena mengorok ini akan hilang dengan sendirinya. Semakin bayi mengalami pertambahan usia, suara mengoroknya pun akan berkurang bahkan hilang sama sekali. Jika dirasa dengkurannya mengganggu aktivitas bayi maka konsultasikan ke dokter anak untuk mendapatkan penanganan yang sesuai mengingat penyumbatan saluran nafas bisa dipicu oleh banyak hal.


sumber:  dokterbayi.com


Rabu, 17 April 2013

Tips Menghadapi Anak yang Suka Mengumpat


Orangtua merasa senang dan bangga kalau anaknya mahir berbicara dan berani mengungkapkan emosinya. Namun, perasaan positif ini dapat menjadi negatif seketika ketika si kecil merespons sikap dan ucapan Anda dengan bantahan bahkan mengumpat.

Sebaiknya, Anda tak terpancing dengan bantahan anak melalui sikap dan ucapan kasar yang keluar begitu saja dari mulutnya. Misalnya, saat ibu mengajak anak tidur, ia tiba-tiba berkata, "Ih, bawel."

Jane Nelsen, penulis buku Positive Disciplin memaparkan anak yang membalas ucapan orangtua dengan kata-kata atau ungkapan kasar sebenarnya ia sedang mengekspresikan kemarahan, frustasi, ketakutan atau rasa sakit.

"Anda harus mengajarkan anak untuk mengungkapkan emosinya dengan cara yang lebih baik," sarannya.

Jangan terpancing.
Bereaksilah sewajarnya saat anak membalas ucapan Anda dengan cara yang tak sopan. Cara terbaik yang bisa dilakukan orangtua terhadap anaknya adalah dengan mengajarkannya bersikap menghargai orang lain. Ajari anak mengenai bagaimana cara berbicara yang baik. Jangan pernah membalas ucapan kasar anak Anda. Bagaimana pun anak mencontoh dari orang lain di sekitarnya, terutama orangtuanya.

Tak ada kompromi.
Jangan membiarkan si kecil berbicara dengan nada atau kata-kata yang buruk. Jika ia tak sengaja mengucapkan kata kasar saat sedang bermain games bersama Anda misalnya, segera ingatkan dia. Bilang kepadanya, Anda tak mau melanjutkan permainan jika si kecil bicara kasar lagi. Jika anak masih saja bicara buruk, segera hentikan permainan Anda. Tinggalkan si kecil, dan katakan kepadanya bahwa Anda hanya mau bicara padanya kalau ia sudah siap bersikap baik.

Nah, jika hal ini terjadi di depan umum, upayakan untuk tidak mengintimidasinya. Perlahan dan dengan tenang beritahu anak Anda bahwa ucapannya tak baik. Ajak anak ke tempat yang tenang, dan katakan padanya, jika ia mengulangi hal tersebut maka ia harus siap menerima konsekuensinya. Misalnya, tak boleh menonton acara TV favoritnya.

Terapkan aturan.
Pastikan anak Anda memahami apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan, dan pada saat kapan. Berikan si kecil penjelasan, mengapa Anda menerapkan aturan tersebut. Sehingga si kecil dapat memahami aturan yang ada dalam keluarganya. Jelaskan juga padanya, tak semua isi pikiran dapat diungkapkan sesuka hati.

"Penting untuk membuat batasan dan konsisten menjalaninya," kata psikolog klinis, Wade Horn.

Komunikasi.
Tunjukkan perhatian Anda dengan mengatakan kepada si kecil bahwa Anda memahami perasaannya, meski tak menyetujui caranya mengungkapkan emosi.

Bangunlah komunikasi dengan si kecil, ajak ia mengungkapkan alasan di balik kata-kata kasar yang diucapkannya. Ajak si kecil belajar menjelaskan perasaan atau emosinya, bukan dengan mengumpat.

Sebaiknya mulailah percakapan setelah temperamen anak mereda. Libatkan anak untuk mencari tahu bagaimana seharusnya ia bersikap saat merasa emosi dengan sesuatu, bukan dengan mengumpat.

Fokus pada solusi.
Telusuri lebih jauh mengapa si kecil bersikap atau berkata kasar kepada Anda. Ia pasti punya alasan di baliknya. Bisa jadi cara Anda memperlakukannya membuatnya emosi dan menyimpan kemarahan.

Misalnya saat ia sedang mengerjakan tugasnya membersihkan mainannya, Anda selalu bertanya apakah ia sudah menyelesaikan tugasnya, setiap beberapa menit. Adalah tugas orangtua untuk mencari solusi bersama, agar tercipta harmoni dengan sikap saling menghargai.

Selamat mencoba bunda :)


*sumber: kompas.com